Senin, 26 September 2011

Mudik: Sebuah Kisah Klasik

Pada dasarnya mudik adalah kegiatan yang dilakukan para penduduk kota untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik, yang juga akrab disebut pulang kampung, biasanya dilakukan pada musim liburan panjang, seperti ketika libur lebaran yang terjadi baru-baru ini. Libur panjang yang bertepatan dengan peringatan hari raya idul fitri yang dirayakan mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam tidak membatasi hanya umat Muslim saja yang melaksanakan tradisi mudik, bahkan kota Jakarta yang selalu terkenal dengan hiruk pikuknya mendadak lenggang karena mayoritas penduduknya memilih untuk berlibur di kampung halaman mereka.

Tidak bisa dipungkiri, mudik adalah sebuah fenomena besar yang terjadi di Indonesia. sebuah fenomena yang mempengaruhi penduduk Indonesia secara besar-besaran dalam berbagai aspek. jika dilihat secara sederhana para penduduk kota besar melakukan mudik sebagai ajang pelepasan rindu pada keluarga, teman, ataupun hanya untuk melepas lelah dari kepenatan kota dan masuk ke dalam ketenangan masyarakat pedesaan.

Jika ditelusuri secara lebih mendalam sebenarnya mudik mempengaruhi aspek ekonomi dengan sangat kuat. Hal ini terbukti dengan melonjaknya harga berbagai kelengkapan mudik misalnya saja harga tiket transportasi umum ataupun harga rental mobil, tetapi hal ini tidak mempengaruhi niat para penduduk ibu kota untuk melaksanakan ritual mudik. Hal ini disebabkan karena kebanyakan dari mereka sudah memiliki mindset bahwa mudik merupakan suatu kewajiban, maka untuk mengahadapi mudik mereka sudah mempersiapkan budget khusus sejak awal, sehingga berbagai kenaikan harga yang terjadi tidak memberikan efek yang terlalu berat pada kondisi keuangan mereka.

Tidak hanya aspek ekonomi yang dipengaruhi secara besar-besaran oleh kegiatan mudik, karena mudik juga mengakibatkan perputaran kependudukan, karena pada kegiatan mudik ataupun kegiatan setelahnya yang dikenal dengan arus balik seringkali terjadi urbanisasi dan re-urbanisasi secara bersamaan. Pada umumnya yang seringkali disoroti adalah kegiatan urbanisasi yang terjadi ketika arus balik, para warga desa berbondong-bondong ikut pergi ke kota bersamaan dengan sanak keluarganya ataupun teman yang sudah lebih dulu mengadu nasib di kota. Dengan diiming-imingi banyaknya kesempatan kerja merekapun pergi ke kota dengan membawa segenap harapan. Sebaliknya, mereka yang memilih untuk keluar dari kehidupan kota dan kembali menetap di kampung mungkin adalah segelintir orang yang sudah merasakan kejamnya kota besar. Tidak hanya mereka yang memiliki kekecewaan yang memilih untuk kembali menetap di kampong halamannya, tetapi ada juga mereka yang membawa segenap inovasi dan ide cemerlang untuk menjadikan kampungnya lebih baik dari sebelumnya.

Mudik, sebagai sebuah fenomena besar di Indonesia, terjadi hampir setiap tahun, dengan kata lain ini adalah rutinitas yang sudah biasa dilakukan masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Hal-hal yang berkaitan dengan fasilitas mudik seperti halnya infrastruktur jalan yang dilalui arus mudik seharusnya sudah dipersiapkan dengan baik ketika waktu mudik tiba. Tetapi jika kita tengok secara langsung kondisi di lapangan, pembangunan jalan selalu berkejaran dengan waktu arus mudik. Hal ini tentu saja mengurangi kenyamanan para pemudik, karena jika seharusnya mereka dapat menikmati perjalanan mudik dengan santai, kenyataanya justru mereka harus memiliki kewaspadaan tingkat tinggi karena adanya papan bertuliskan “Maaf sedang ada perbaikan jalan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar