Minggu, 16 Januari 2011

Makna Keindahan

Judul : Armageddon
Tahun release : 1998
Durasi : 157 menit
Tempat Nonton : Rumah

Sinopsis:
Ceritanya berawal ketika sebuah stasiun angkasa luar di orbit bumi yang sedang dalam misi perbaikan dengan pesawat ulang alik, ketika hujan meteor yang tidak terduga menghantamnya sehingga hancur lebur. Tidak hanya itu, batu-batu meteor yang berukuran kecil ternyata mampu membuat lubang berukuran besar di permukaan bumi seperti yang terjadi pada salah satu kota besar di bumi. Rupanya hujan meteor ini merupakan pendahuluan dari asteroid yang berukuran sebesar Texas. Seorang astonomer amatir yang pertama kali menemukannya, memberitahukan NASA, bahwa asteroid itu menuju ke bumi dalam waktu 18 hari mendatang. Setelah menganalisis penemuan astronomer tersebut, pihak NASA yang dipimpin Dan Truman (Billy Bob Thornton) ternyata mendapatkan kesimpulan yang sangat mengerikan karena asteroid itu dapat mengulangi bencana kiamat seperti yang pernah terjadi sekitar 65 juta tahun lampau.
Kiamat yang terjadi puluhan juta tahun lalu itu memusnahkan spesies yang pernah menguasai bumi, yakni dinosaurus.
Akhirnya pihak NASA menoleh pada kemungkinan lain, yakni sebuah kelompok pembor minyak yang dapat melakukan usaha tersebut yang maha sulit, jika tidak bisa dibilang mustahil.
Kelompok pembor minyak pimpinan Harry Stamper (Bruce Willis) memenuhi kriteria tersebut, karena mereka mempunyai reputasi paling tinggi dalam keberhasilan membor lapisan permukaan bumi yang paling keras sekalipun untuk mencari minyak. Masalahnya kelompok pembor itu bukanlah para astronot yang terlatih untuk mengarungi angkasa luar. Dengan waktu yang pendek itu, kelompok pembor minyak Harry Stamper harus dilatih menjadi astronot. Tidak heran apabila banyak masalah yang mewarnai pelatihan tersebut, apalagi sebenarnya ada beberapa orang anggota Harry tidak memenuhi syarat untuk menjadi astronot. Selain itu, juga ada masalah lain seperti adanya ketegangan hubungan Harry dengan salah satu anak buahnya, yakni A.J. Frost (Ben Affleck) lantaran A.J. nekat berhubungan dengan putri Harry, Grace Stamper (Liv Tyler), padahal hubungan itu tidak disukai oleh Harry. Masalah-masalah tersebut dapat mengganggu keefektifan misi penyelamatan umat manusia.

Makna keindahan:
Keindahan yang saya temukan dalam film ini adalah keindahan perasaan yang ditunjukkan oleh seorang ayah, Harry Stamper, yang rela berkorban demi kebahagiaan anaknya, Grace Stamper. Dia rela mengorbankan diri untuk menyelamatkan A.J. Frost, anak buahnya yang sangat dicintai oleh putri semata wayangnya. Selain itu masih banyak keindahan yang ditunjukkan di film ini, diantaranya keindahan rasa kekeluargaan yang ditunjukkan oleh para tim pengeboran minyak yang sudah bekerjasama sejak lama.

Sumber:
http://downloadbioskop21.blogspot.com/2010/09/armageddon-1998.html
Selengkapnya...

Keironisan Keadilan

Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara ke dua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama. kalau tidak sama, maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelanggaran tcrhadap proporsi terscbut berarti ketidak adilan.
Keadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia schingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan difi, dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
Lain lagi pendapat Socrates yang mcmproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan balk. Mengapa diproycksikan pada pemerintah, scbab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika inasyarakat.
Kong Hu Cu berpendapat lain : Kcadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah mclaksanakan kcwajibannya. Pcndapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau discpakati.
Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dan kekayaan bersama.
Namun, pada prakteknya sekarang, keadilan seringkali hanya berbentuk pembahasan. Bentuk keadilan dibahas dan diterangkan dimana-dimana, tetapi yang sangat sering diaplikasika adalah bentuk dari ketidakadilan. Hal ini dapat dilihat dari kasus Nenek Minah, pencuri tiga buah Kakao, duo pencuri semangka yaitu Basar Suyanto dan Kholil, serta Prita Mulyasari.
Nenek Minah, warga Banyumas, Jawa Tengah, divonis 1,5 bulan kurungan dengan masa percobaan 3 bulan akibat mencuri tiga buah kakao seharga Rp2.100. Beban psikologis juga harus ditanggung nenek berusia 65 tahun itu karena harus berurusan dengan aparat penegak hukum.
Kisah serupa juga dialami dua warga Kediri, Jawa Timur, Basar Suyanto dan Kholil. Keduanya terpaksa berurusan dengan polisi karena kedapatan mencuri sebuah semangka. Keduanya sempat merasakan pengapnya ruang tahanan, sebelum akhirnya divonis bebas oleh Pengadilan Negeri Kediri. Keluarga Basar pun mengaku sempat ditipu anggota polisi membayar Rp1 juta agar kasusnya dihentikan.
Prita Mulyasari, seorang ibu rumah tangga yang curhat mengenai buruknya layanan RS Omni Internasional juga harus berurusan dengan aparat penegak hukum, karena dituduh melakukan pencemaran nama baik dan kemudian diputus bersalah oleh Pengadilan Tinggi Banten dan wajib membayar denda sebesar Rp204 juta.
Ironisnya, pada waktu hampir bersamaan, Anggodo Widjojo justru mendapatkan perlakukan istimewa dari aparat penegak hukum. Dia tetap bebas berkeliaran meski terindikasi kuat merekayasa kriminalisasi dua pimpinan KPK. Indikasi itu didukung adanya transkrip rekaman yang diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi (MK).
Enam tuduhan pelanggaran hukum, termasuk salah satunya tuduhan pencemaran nama baik Presiden, pun tak mampu menyeret adik koruptor Anggoro Widjojo itu ke balik jeruji besi. Besarnya tekanan dari publik seolah tak didengar aparat penegak hukum. Justru dengan alasan keamanan, polisi malah mengawal Anggodo selama 24 jam nonstop.
Manisnya wajah hukum juga dinikmati Ketua DPRD Jawa Tengah periode 1999-2004 Mardijo yang terbukti menilep duit APBD sebesar Rp14,8 miliar. Atas kejahatannya itu, Mardijo hanya dihukum percobaan dua tahun penjara.
Keironisan tersebut sudah terjadi cukup lama di depan mata kita. Sudah banyak orang secara idealis mematikan keironisan tersebut dan dengan tegasnya membela keadilan di Negara kita, tapi jauh lebih banyak orang yang menyuntikkan virus ketidakadilan tersebut entah di bawah tanah ataupun secara terang-terangan. Supremasi hukum di Indonesia sudah seharusnya dibenahi dari akar hingga ke puncaknya. Pembenahan yang dilakukan tidak cukup jika hanya berbentuk koaran yang memekakan telinga mereka, tetapi harus dengan tepat menyentuh hati mereka.
Sumber:
http://news.okezone.com/read/extend/2009/12/04/343/281835/nenek-minah-pencuri-semangka-anggodo
http://masuk.blogrezzaprawiratama.co.cc/2010/04/pengertian-keadilan.html
Selengkapnya...

Sabtu, 15 Januari 2011

Manusia dan Penderitaan


Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.

Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.

Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan “risiko” hidup. Tuhan memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bennakna agar manusia sadar untuk tidak memalingkan dariNya. Untuk itu pada umumnya manusia telah diberikan tanda atau wangsit sebelumnya, hanya saja mampukah manusia menangkap atau tanggap terhadap peringatan yang diberikanNya? Tanda atau wangsit demikian dapat berupa mimpi sebagai pemunculan rasa tidak sadar dari manusia waktu tidur, atau mengetahui melalui membaca koran tentang terjadinya penderitaan. Kepada manusia sebagai homo religius Tuhan telah memberikannya.
Diantara berbagai macam penderitaan, penderitaan yang menimpa anak. Penderitaan itu bisa didapatkan dari kekerasan semasa kecil, baik secara fisik maupun psikologis. Salah satu yang merupakan kekerasan psikologis terhadap anak adalah pengabaian. Inilah yang sering dialami oleh Secka (22 tahun) sejak usia 10 tahun. Karena kurang kasih sayang dan pengabaian orang tuanya, Secka kecil memilih hidup di kereta Jabotabek dan ikut mencari uang dengan menyemir. Saat orang tuanya berpisah, Secka harus hidup dengan sang nenek di Bogor. Namun karena dianggap bandel dia dikirim ke neneknya di Pademangan Jakarta Utara.
”Dari SD saya sudah dioper-oper dari rumah nenek di bogor trus ikut nenek yang di jakarta bolak balik. Ya gitu dilempar-lempar gitu terus, karena orang tua saya sudah cerai dari kecil, dari setelah saya lahir bahkan,” terang Secka. Sejak SD dia mulai belajar dari lingkungan jalanan bagaimana bertahan hidup dan menjadi seorang manusia. ”Saya belajar bandel dari lingkungan sih, dari temen-temen. Cuma kebawa-bawa aja. Saya ngrokok dan minum dari kelas tiga SD, udah badung. Emang beneran, jauh dari orang tua emang ngaruh, namanya ama nenek, dia kan masih masa bodoh aja,” tambah Secka.  Petualang ini membawa Secka ke Rumah Tahanan selama 3 bulan karena perkelahian dan membawa senjata tajam saat usinya belum genap 17 tahun.  Meski Secka tidak pernah diberi contoh untuk menjadi orang yang penuh kekerasan, tetapi lingkungan mengajarkannya. Sayang disaat ia butuh dampingan, orang tuanya tidak sempat mendampingi.
”Saat ini begitu banyak paradigma orang tua yang keliru. Mereka menganggap seolah-olah anak-anak itu dengan sendirinya bisa hidup dengan baik. ”sesal Kak Seto. Akibat dari paradigma yang keliru ini, sering terjadi pengabaian oleh orang tua terhadap anak-anak dengan membiarkan mereka hidup dalam situasi yang negatif. ”Mereka lupa bahwa bibit unggul tidak bisa hidup dan menghasilkan yang terbaik dengan sendirinya. Bibit unggul hanya bisa tumbuh dengan baik di tanam ditanah yang subur,” tambah Kak Seto.
Menurut Kak Seto, seorang anak, yang baik sekalipun, kalau dia berada dalam lingkungan yang negatif, maka ia akan rusak juga. Dia akan berkembang menjadi negatif. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa melahirkan seorang anak adalah awal dari suatu tanggung jawab yang cukup panjang, termasuk melindungi si anak dari pengaruh-pengaruh negatif dari dalam dan luar rumah, seperti emosi orang tua, tuntutan yang terlalu berat, acara-acara TV yang negatif. Anak memang harus dilindungi. Bibit unggul sebagus apapun jika ditanam ditanah yang tandus dan diterpa topan dan badai ya akan rusak juga.
Pola pendidikan, sosialisasi dan pola interaksi dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan perilaku anak. Kekerasan anak bisa muncul tatkala orang tua kurang perduli terhadap lingkungan pergaulan anak. Berbagai pendapat diungkapkan para pakar mengenai penyebab munculnya perilaku kekerasan di dalam jiwa dan lingkungan anak-anak namun sebagian besar setuju bahwa perilaku kekerasan di lingkungan anak-anak lebih banyak dipengaruhi latar belakang pola pendidikan dalam keluarga.
Sumber:

http://nuri.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/19527/bab6-manusia_dan_penderitaan.pdf http://shintaksari.multiply.com/journal/item/273/Trauma_Anak_BerkepanjanganAkibat_Kekerasan_psikologis Selengkapnya...

Kamis, 25 November 2010

Tentang Cinta dan Sebuah Fenomena


Cinta adalah satu perkataan yang mengandungi makna perasaan yang rumit. Bisa di alami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke 21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:
  1. Perasaan terhadap keluarga
  2. Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
  3. Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
  4. Perasaan yang hanya merupakan kemahuan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros
  5. Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
  6. Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
  7. Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu
  8. Perasaan terhadap negaranya atau patriotisme
  9. Perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme
            Cinta menurut kamus umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya
Pengunaan perkataan cinta dalam masyarakat Indonesia dan Malaysia lebih dipengaruhi perkataan love dalam bahasa Inggris. Love digunakan dalam semua amalan dan arti untuk eros, philia, agape dan storge. Namun demikian perkataan-perkataan yang lebih sesuai masih ditemui dalam bahasa serantau dan dijelaskan seperti berikut:
  1. Cinta yang lebih cenderung kepada romantis, asmara dan hawa nafsu, eros
  2. Sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga, philia
  3. Kasih yang lebih cenderung kepada keluarga dan Tuhan, agape
  4. Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme dan narsisme, storge
Beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia atau bahasa Melayu apabila dibandingkan dengan beberapa bahasa mutakhir di Eropa, terlihat lebih banyak kosakatanya dalam mengungkapkan konsep ini. Termasuk juga bahasa Yunani kuno, yang membedakan antara tiga atau lebih konsep: eros, philia, dan agape.
Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:
  1. Pengenalan
  2. Tanggung jawab
  3. Perhatian
  4. Saling menghormati
Erich Fromm dalam buku larisnya (the art of loving) menyatakan bahwa ke empat gejala: Care, Responsibility, Respect, Knowledge (CRRK), muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Omong kosong jika seseorang mengatakan mencintai anak tetapi tak pernah mengasuh dan tak ada tanggungjawab pada si anak. Sementara tanggungjawab dan pengasuhan tanpa rasa hormat sesungguhnya & tanpa rasa ingin mengenal lebih dalam akan menjerumuskan para orang tua, guru, rohaniwan dll pada sikap otoriter.
Cinta yang dimiliki manusia dapat digolongkan menjadi cinta yang normal dan abnormal. Cinta yang bersifat normal merupakan cinta yang dirasakan oleh sepasang manusia (lawan jenis) dengan memperhatikan batasan-batasan yang seharusnya. Sedangkan, untuk cinta abnormal ialah cinta yang dalam kasusnya ditemukan banyak kejanggalan dan ketidakharusan. Sepenggal kisah cinta abnormal dapat tergambarkan dari peristiwa berikut:
Salah satu kasus adalah pria berusia 35 tahun yang baru saja menikah. Sebutlah namanya Jojo, dosen fakultas ekonomi sebuah perguruan tinggi. Sang istri adalah mantan mahasiswanya. Proses menuju pernikahan berlangsung alot, meski sebenarnya hubungan mereka telah menghasilkan seorang anak laki-laki berusia 3 tahun. Pasalnya ibu Jojo kurang merestui hubungan mereka.
Bagi ibu Jojo (didukung penuh oleh Jojo), meski merupakan wanita baik-baik, Juli (pasangan Jojo) bukanlah pilihan ideal karena berasal dari ras yang berbeda. Juli harus merana sekian lama, membesarkan bayinya sendiri di sebuah kota kecil, disokong oleh sang ayah yang sudah lanjut usia (ibunya sudah wafat).
Saat bayi lahir di rumah sakit, sempat terjadi rebutan antara keluarga Jojo dan Juli. Setelah mengetahui Juli melahirkan bayi yang sehat dan menarik, keluarga Jojo mulai mendekati Juli dengan maksud agar mereka dapat memiliki anak tersebut.
Akhirnya proses menuju perkawinan mulai dibicarakan meski Jojo selalu mengatakan sangat berat kalau harus menikahi Juli. Sejak awal hubungan mereka terseok-seok. Jojo sering mengatakan Juli ”tidak ada apa-apanya” buat dia. Sebaliknya ia selalu memuji ibu dan adik perempuannya. Ia bahkan sering melontarkan sumpah serapah penghuni kebun binatang untuk Juli.
Juli sempat merasa sangat tidak berdaya dan takut menghadapi perkawinannya. Jojo mengharuskan keluarga Juli pun patuh sepenuhnya pada rancangan ibu Jojo. Rencana Juli kuliah S2 (atas biaya sang ayah) dan membangun usaha terancam batal karena ibu Jojo menginginkan Juli bekerja di kantor orang.
Sering ia mengajak berkonsultasi dengan rohaniawan, tetapi Jojo bilang, ”Semua konselormu nggak ada yang bener.” Akhirnya Juli toh menemukan kekuatan. Meski pasangannya tetap berperilaku negatif, ia sudah cukup kuat dan mengerti bagaimana menyikapinya. Itulah sebabnya ia memutuskan menikahi Jojo.
Kasus di atas dapat digolongkan sebagai kasus Oedipus complex, yaitu keadaan dimana seorang pria terlalu terobsesi pada ibunya. Beberapa kasus Oedipus complex dapat terseret ke arah kasus-kasus incest (hubungan seksual antara anak dan orangtua). Tetapi tidak dengan kasus di atas, kasus di atas lebih menjurus kepada fenomena laki-laki anak mami.
Kasus Oedipus complex di atas cenderung terjadi karena bentuk interaksi social yang salah antara anak dengan orang terdekatnya. Sangat mungkin perkembangan kepribadian Jojo disebabkan pola reaksi ibu yang begitu menguasai, dan berusaha ”menggenggam” anak lelakinya sedemikian rupa. Akhirnya anak tidak sanggup lagi melepaskan diri dari kelekatan pada ibunya dan senantiasa merasa membutuhkan perhatian dan pengasuhan sang ibu.


Sumber
http://kesehatan.kompas.com/read/2010/06/01/08345568/Fenomena..quot.Oedipus.Complex Selengkapnya...

Kebudayaan Zaman Batu Tua, Zaman Batu Tengah, dan Zaman Batu Modern (Muda)


Prasejarah atau nirleka (nir: tidak ada, leka: tulisan) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di mana catatan sejarah yang tertulis belum tersedia. Zaman prasejarah dapat dikatakan bermula pada saat terbentuknya alam semesta, namun umumnya digunakan untuk mengacu kepada masa di mana terdapat kehidupan di muka Bumi dimana manusia mulai hidup.
Zaman prasejarah dengan zaman sejarah dibatasi dengan mulai adanya tulisan. Hal ini menimbulkan suatu pengertian bahwa prasejarah adalah zaman sebelum ditemukannya tulisan, sedangkan sejarah adalah zaman setelah adanya tulisan. Berakhirnya zaman prasejarah atau dimulainya zaman sejarah untuk setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut. Salah satu contoh yaitu bangsa Mesir sekitar tahun 4000 SM masyarakatnya sudah mengenal tulisan, sehingga pada saat itu, bangsa Mesir sudah memasuki zaman sejarah. Zaman prasejarah di Indonesia diperkirakan berakhir pada masa berdirinya Kerajaan Kutai, sekitar abad ke-5; dibuktikan dengan adanya prasasti yang berbentuk yupa yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur baru memasuki era sejarah.
Penggolongan zaman prasejarah menurut sisi arkeologi dibagi menjadi zaman batu dan zaman logam. Zaman batu terbagi menjadi:
·         Palaeolithikum (Zaman Batu Tua)
Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan.
Contoh alat-alat tsb adalah :
  1. Kapak Genggam, banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut “Chopper” (alat penetak/pemotong).
  2. Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa yaitu alat penusuk (belati), ujung tombak bergerigi.
  3. Flakes, yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon,yang dapat digunakan untuk mengupas makanan.
Alat-alat dari tulang dan Flakes, termasuk hasil kebudayaan Ngandong. Kegunaan alat-alat ini pada umumnya untuk berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah-buahan.
Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi Kebudayaan Pacitan dan Ngandong.
Manusia pendukung kebudayaan ini adalah :
  1. Pacitan : Pithecanthropus dan
  2. Ngandong : Homo Wajakensis dan Homo soloensis.

·         Mesolithikum (Zaman Batu Tengah)
Ciri zaman Mesolithikum :
  1. Alat-alat pada zaman ini hampir sama dengan zaman Palaeolithikum.
  2. Ditemukannya bukit-bukit kerang dipinggir pantai yang disebut “kjoken modinger” (sampah dapur) Kjoken =dapur, moding = sampah).
Alat-alat zaman Mesolithikum :
  1. Kapak genggam (peble)
  2. Kapak pendek (hache Courte)
  3. Pipisan (batu-batu penggiling)
  4. Kapak-kapak tersebut terbuat dari batu kali yang dibelah
  5. Alat-alat di atas banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Flores
Alat-alat Kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua-gua yang
disebut “Abris Sous Roche” Adapun alat-alat tersebut adalah :
  1. Flaces (alat serpih) , yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu dan berguna untuk mengupas makanan.
  2. Ujung mata panah,
  3. Batu penggilingan (pipisan),
  4. Kapak,
  5. Alat-alat dari tulang dan tanduk rusa,
  6. Alat-alat ini ditemukan di gua lawa Sampung Jawa Timur (Istilahnya: Sampung Bone Culture = kebudayaan Sampung terbuat dari Tulang)
Tiga bagian penting Kebudayaan Mesolithikum,yaitu :
  1. Peble-Culture (alat kebudayaan Kapak genggam) didapatkan di Kjokken Modinger
  2. Bone-Culture (alat kebudayaan dari Tulang)
  3. Flakes Culture (kebudayaan alat serpih) didapatkan di Abris sous Roche
Manusia Pendukung Kebudayaan Mesolithikum adalah bangsa Papua –
Melanosoid.

·         Neolithikum (Zaman Batu Muda)
Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang sudah dihaluskan.
Contoh alat tersebut :
  1. Kapak Persegi, misalnya Beliung, Pacul dan Torah untuk mengerjakan kayu. Ditemukan di Sumatera, Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan
  2. Kapak Bahu, sama seperti kapak persegi ,hanya di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Hanya di temukan di Minahasa
  3. Kapak Lonjong, banyak ditemukan di Irian, Seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa dan Serawak
  4. Perhiasan ( gelang dan kalung dari batu indah), ditemukan di jawa
  5. Pakaian (dari kulit kayu)
  6. Tembikar (periuk belanga), ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Melolo(Sumba)
Manusia pendukung Kebudayaan Neolithikum adalah bangsa Austronesia (Austria) dan Austro-Asia (Khmer –Indochina)
.

Sumber:
Selengkapnya...